Di sebuah ruangan luas yang terletak jauh di kedalaman tanah, cahaya redup dari obor berwarna biru tua berkelap-kelip di sepanjang dinding batu yang kokoh. Suasana hening, nyaris tanpa suara. Di ujung ruangan, menjulang sebuah singgasana besar dari batu obsidian yang berkilau, penuh ukiran rumit yang tidak mudah di pahami.

Mira duduk anggun di atas singgasana itu. Tatapannya tajam dan dingin menatap kearah bola kristal yang ada didepannya. Di pangkuannya, seekor kucing hitam berbulu lebat mendengkur pelan saat tangannya yang lembut terus mengelus kepala hewan itu dengan tenang.

Pakaian Mira tampak megah dan mengintimidasi. Ia mengenakan jubah panjang berlapis kain hitam legam yang menjuntai hingga ke lantai, dihiasi garis ungu gelap dan sulaman perak berbentuk bintang sihir. Di bagian dadanya tergantung liontin hitam berbentuk mata, yang memancarkan aura magis yang menekan dada siapa pun yang menatapnya terlalu lama. Tudungnya disampirkan ke belakang, membiarkan rambut panjangnya yang lurus dan hitam mengalir bebas, memberikan kesan misterius sekaligus menawan.

Berdiri di sisi kanan dan kirinya, empat wanita dengan aura kuat ikut mengawasi suasana. Mereka adalah Rina, Sari, Dita, dan Lila, para penyihir yang telah hidup bersama Mira sejak ratusan tahun. Masing-masing mengenakan pakaian khas sesuai elemen mereka, namun semuanya menampilkan warna dominan gelap, memberikan nuansa satu kesatuan yang kokoh dan mengerikan. Rina mengenakan jubah angin berlapis bulu burung hitam, Sari mengenakan gaun api berornamen batu merah menyala, Dita mengenakan kain yang memantulkan cahaya seperti permukaan danau, dan Lila dibalut jubah seperti warna tanah dengan kristal kecil mengambang mengelilingi tubuhnya.

Di hadapan mereka, seorang wanita muda bersujud di lantai. Wajahnya nyaris mencium batu, tatapan matanya tenang bahkan terlihat hampa, sikapnya penuh hormat. Wanita itu adalah Rira, yang menghilang saat Lynx berusaha menghentikan pertarungan antara para kultivator Immortal.

Saat Lynx pergi meninggalkan Rira, Mira memanggilnya dan menggunakan sihir teleportasi untuk menarik Rira yang sudah berada dalam pengaruh sihirnya untuk segera muncul dihadapannya.

Mira melirik sekilas pada Rira, lalu pandangannya kembali tertuju pada bola kristal yang yang mengambang di depannya dengan memancarkan warna abu kebiruan. Di dalam bola itu tampak bayangan beberapa sosok yang terlihat kabur namun di dekat mereka tergeletak sebuah benda yang memancarkan aura tidak asing, fragment senjata iblis. Suara Mira terdengar tenang namun penuh tekanan, bagai pisau dingin yang menggores pelan.

"Rira, bawa Ekar, Rafin, dan beberapa prajurit pilihan bersamamu. Aku ingin fragment senjata iblis terakhir itu ada di tanganku sebelum malam bulan kelima," ucapnya sembari mengangkat tangannya perlahan, bola kristal itu berputar menampilkan lambang yang tak asing. "Keluarga itu bernama keluarga Baihuan. Mereka salah satu dari keluarga misterius yang menyembunyikan diri selama ratusan tahun."

Mira menatap Rira dalam-dalam, suaranya lebih rendah namun jauh lebih berbahaya. "Aku tidak peduli berapa nyawa yang harus dikorbankan. Bawakan aku fragmen itu, atau jangan pernah kembali."

"Baik Nyonya," tanpa membantah, Rira pergi menuju sebuah ruangan luas dimana Ekar dan Rafin berada. Di dalam ruangan tersebut, bukan hanya ada mereka berdua melainkan ribuan suku Surya yang telah menghilang.

Sebagian besar penduduk yang masih muda, di berikan ramuan khusus sehingga mereka menjadi patuh dan setia melayani Mira. Bagaikan sebuah boneka, mereka beraktifitas mengikuti perintah tanpa menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Sedangkan para penduduk yang lemah terutama anak-anak, di kurung menjadi satu didalam ruangan tahanan luas.

"Kak Rira, Kak Rira... Lepaskan aku. Kak Rira, sadarlah. Ini aku Kanha... Kak Rira...." suara teriakan anak kecil terdengar memecah kesunyian.

"Rira anakku. Sadar nak," kata seorang pria tua yang terlihat jauh lebih tua dari usia aslinya. 

"Raka, dia dalam pengaruh wanita penyihir itu. Seharusnya kita membunuh para penyihir itu saat ada kesempatan di pulau." kata Rasyid, mantan kepala suku Auksa, berusaha menenangkan Raka, mantan kepala suku Raksa.

Sebelumnya, suku surya merasa aman dan nyaman ketika Raja Yan Quanyang memerintahkan mereka untuk tinggal di sebuah dunia dimana banyak tersedia makanan dan tubuh mereka pun terasa lebih kuat berkat udara yang ada di tempat tersebut. Raja yan Quanyang menempatkan mereka di tempat tersebut agar tidak menimbulkan kegemparan dengan munculnya ribuan penduduk asing tanpa bisa dijelaskan secara tiba-tiba. Namun, tidak lama mereka berada di tempat tersebut, Mira dan teman-temannya mulai membuat masalah. Mereka secara terang-terangan membunuh para penduduk Surya dan kekuatan mereka berlima tiba-tiba saja jauh lebih kuat ratusan kali lipat daripada saat di pulau. Rira dan para pemuda yang berusaha melawan, berhasil di taklukkan. Namun berkat kedekatan Rira dengan Lynx, Mira tidak membunuh orang-orang yang dekat dengannya.

Selama bersama para penduduk Surya, Mira sudah mengetahui siapa saja orang-orang terdekat Lynx dan mengetahui kekuatannya saat melawan naga, sehingga dia tertarik untuk mendapatkan tubuhnya sebagai wadah untuk sebagian jiwanya serta menyusun rencana untuk menghadapinya. Selain itu dia merasa dunia tempatnya berada sekarang tidak sesederhana yang terlihat, terbukti dari kekuatan sihir mereka kembali pulih sebagian besar hanya dengan menyerap energi alam di sekitar, sehingga dia harus memiliki pasukan yang dapat menjalankan rencananya. 

Dengan kekuatan sihirnya, Mira menundukkan para suku Surya dan membawa mereka pergi dari kerajaan Qingyuan. Dalam setiap periode tertentu, secara bergantian para suku Surya yang berada dalam pengaruh sihir Mira akan mandi dengan ramuan khusus dan meminum cairan pengikat sukma agar mereka selalu mengikuti perintah Rira.

Setelah Rira menghilang dari ruangan, suasana di ruangan utama kembali sunyi. Kucing hitam di pangkuan Mira menguap malas, lalu mengeong pelan seolah menyadari keheningan itu membawa pertanda.

Lila yang berdiri di sisi kiri Mira menyentakkan jubahnya perlahan lalu berkata dengan nada ragu, "Nyonya, sampai kapan Anda mempertahankan suku Surya? Mereka terlalu lemah. Tidak ada gunanya memiliki mereka sebagai prajurit. Bahkan setelah menerima sihir transformasi, kekuatan mereka hanya naik sedikit… masih tetap berada di ranah forging qi."

Sari yang berdiri di sisi seberang mengangguk cepat, suara lantangnya penuh penegasan. "Benar sekali, Nyonya. Meskipun Anda menyiapkan mereka untuk menghadapi musuh dari dunia kita, bukankah akan jauh lebih efisien jika kita langsung menangkap para kultivator dan menjadikan mereka budak kita? Mereka jauh lebih kuat dan lebih berguna."

Mira tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis sambil melanjutkan gerakan tangannya mengelus kucing hitam di pangkuannya. Bola matanya yang tajam masih menatap bola kristal yang perlahan memudar cahayanya. Kemudian, dengan suara pelan yang menyerupai bisikan angin namun sarat tekanan, Mira menjawab, "Kalian terlalu cepat menilai. Mereka jauh lebih berguna. Mereka adalah senjata rahasia kita untuk menaklukkan Lynx. Kekuatan pemuda itu… jauh lebih besar dari yang kita duga sebelumnya. Bahkan cairan srefoturtey tidak mampu menahan kekuatannya."

Seketika udara di dalam ruangan terasa menegang. Lila menoleh, wajahnya yang biasanya tenang langsung berubah menjadi kaku.

"Cairan srefoturtey tidak mempan?" tanyanya dengan suara pelan, hampir tak terdengar, namun getarannya sangat jelas. "Bagaimana mungkin? Cairan itu… bahkan penguasa kegelapan di dunia kita kehilangan kekuatan dan tidak bisa memulihkannya tanpa penawar. Lynx bisa mengatasinya?"

Mira mengangguk pelan, tatapannya tak lepas dari kucing hitam yang kini berdiri di kakinya dan mengeong kecil. "Dengan cairan itu, seharusnya tubuhnya menjadi lemah seperti manusia biasa, namun dengan mudahnya, dia bisa mengatasinya. Itu menandakan kekuatan yang dia miliki jauh lebih besar dari kekuatan apapun yang pernah kita lihat."

Rina yang sejak tadi diam tak tahan untuk tidak bersuara. "Jika begitu… apakah kita bisa menghadapinya? Jika cairan srefoturtey tidak mempan, bagaimana sihir kita bisa mempengaruhinya?"

Mira menoleh, kali ini wajahnya berubah dingin. "Kini kalian mengerti. Untuk menghadapinya, kita butuh perisai. Suku Surya mungkin lemah, tapi dengan jumlah mereka banyak, Lynx sebagai kepala suku mereka tidak akan berani menyerang kita begitu saja. Selain itu, aku sudah menyiapkan cara lain untuk menghadapinya jika kita belum berhasil merebut tubuhnya."

"Betul Nyonya, selain itu dengan fragment senjata iblis berhasil anda gabungkan, kekuatan fragment itu akan bisa menghidupkan sihir astral terkuat kita. Anda pasti bisa mendapatkan tubuh pemuda itu." kata Rina bersemangat.

Mira berdiri perlahan, jubah hitamnya terangkat ringan oleh tiupan angin. "Kalian bersiaplah. Rira tidak akan bisa bertahan lama menghadapi mereka. Kekuatan yang kita tanam dalam dirinya mulai melemah. Pengaruh sihir yang selama ini menopangnya tidak akan bertahan lama saat dia berhadapan langsung dengan sekte kegelapan dan para pemburu dari sekte lainnya. Jika dia jatuh, akan sangat merepotkan. Hanya wanita itu yang cocok dengan sihir transformasi nyaris sempurna."

Sari dan Lila saling berpandangan dengan cemas, lalu membungkuk dalam.

"Kami mengerti, Nyonya," ujar mereka serempak.

Mira memalingkan wajahnya ke arah utara, seolah melihat sesuatu yang tidak tampak. "Semuanya sedang bergerak. Dan Lynx… dia akan menjadi kunci untuknya membalas dendam."

